Komitmen Syngenta Sejahterakan Petani Indonesia

Menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan pangan bagi penduduk dunia yang akan mencapai 9 miliar jiwa pada 2050, Syngenta memiliki komitmen The Good Growth Plan. Menurut Parveen Kathuria, Presiden Direktur PT Syngenta Indonesia, komitmen tersebut terlaksana sejak 2013. Hal itu diungkapkannya pada acara kumpul media “Syngenta Commitment Progress the Good Growth Plan 2016” di Jakarta beberapa waktu lalu.

“Kami ingin membantu petani besar dan kecil menghadapi tantangan kebutuhan pangan berkelanjutan. Dan tentunya juga, meningkatkan kesejahteraan mereka,” terang Parveen. The Good Growth Plan, lanjut dia, mencakup enam poin, yaitu membuat tanaman lebih efisien, menyelamatkan lebih banyak lahan pertanian, membantu berkembangnya keanekaragaman hayati, memberdayakan petani kecil, membantu setiap jiwa tetap aman, dan melindungi setiap pekerja.

Mendongkrak Produktivitas dan Penghasilan Petani

Secara resmi, PT Syngenta Indonesia merilis pencapaian komitmennya sepanjang 2013 – 2016. Perusahaan yang namanya berarti “membawa sinergi melalui manusia” ini mengklaim berhasil meningkatkan produktivitas jagung petani sebesar 12% dan menaikkan penghasilan mereka sebesar 23%.

Khusus untuk petani padi, sejak 2011 Syngenta memprakarsai “Klub 10 Ton” yang bertujuan agar petani dapat meningkatkan hasil panen hingga 10 ton/ha. Kegiatan yang berfokus di Jatim tersebut mempraktikkan tata cara pertanian yang baik dengan menerapkan GroMoreTM. Hasilnya, sebanyak 15 ribu petani mendapatkan manfaat dari program itu.

Demi mencapai kesuksesan, perusahaan yang hadir sejak 1960-an ini bermitra dengan pemerintah, LSM, dan institusi pendidikan. Sebagai contoh, dalam program pembiayaan mikro di daerah Dompu dan Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), Syngenta bekerjasama dengan Mercy Corps Indonesia, Bank Andara, dan BPR Akbar Pesisir. Kerjasama terjalin dalam bentuk pemberian bantuan pembiayaan mikro untuk petani kecil di bawah kegiatan PISAgro (organisasi nirlaba). “Hingga saat ini, sudah 400 petani kecil yang merasakan manfaatnya. Tahun 2017 kami menyasar 1.000 petani kecil,” terang Maria Benedikta, Sustainable Productivity Manager, penanggung jawab program tersebut. Plafon pinjamannya di bawah Rp10 juta/petani.

Sedangkan program asuransi mikro, sudah berjalan dua tahap dengan besaran premi Rp100 ribu/ha/musim. Pada tahap kedua, asuransi dapat diklaim apabila terjadi kerusakan lahan jagung di atas 75% akibat angin puting beliung.

Menjangkau Komoditas Mangga

Program unggulan lainnya adalah teknik pembungaan awal pada tanaman mangga. Pelaksanaannya dengan aplikasi Cultar 250 SC, zat pengatur tumbuh berbentuk pekatan suspensi yang berbahan aktif paklobutrazol. Program ini bekerjasama dengan DFAT/PRISMA di Jatim dan NTB.

Teknisnya, setiap tanaman mangga dikocori larutan Cultar 250 SC dengan dosis 5-10 ml/liter di sekeliling batangnya. Tanaman mangga menjadi lebih cepat berbunga, jumlah ranting produktifnya lebih banyak. Pembentukan tunas, bunga, dan buah juga meningkat. Akhirnya, petani menikmati peningkatan pendapatan 34%.

Perusahaan yang menggelontorkan dana hingga US$2 miliar/tahun untuk litbang skala global ini memiliki tiga fokus bisnis di Indonesia, yaitu benih tanaman, perlindungan tanaman, serta padang rumput dan pertamanan. Untuk benih, Syngenta telah merilis enam varietas jagung hibrida, yakni NK 22, NK 33, NK99S, NK 212, NK6326, dan NK 7328. Sedangkan produk perlindungan tanamannya meliputi 50 merek dagang yang terdaftar di pestisida.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *