Categories
Uncategorized

YUNITA RESMI SARI, apa mungkin KUR Tani untuk produktif-konsumtif

Fokus ke Petani

Dalam rancang bangun mediator ini, Eriyatno melandaskan filosofi pada pendapat Martin Luther King bahwa mengembangkan suatu program pembangunan jangan melihat kepada input dan produksi, tapi pada orangnya. “Sekarang ini people centre development. Buat apa kita bertepuk tangan karena produksi berhasil, tapi petaninya nggak sejahtera. Focus to the farmers,” tukasnya. Berdasarkan UU No. 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, salah satu mediator itu adalah Badan Usaha Milik Petani (BUMP). Pembentukan BUMP yang beranggotakan petani ini diamanatkan ke Kementerian Pertanian.

Menurut Fathan A. Rasyid, Kepala Pusat Penyuluhan, Badan Penyuluhan dan SDM Pertanian, Kementerian Pertanian, hingga saat ini jumlah kelembagaan ekonomi petani (KEP) sudah mencapai sekitar 14.808 unit. Proses pembentukan BUMP ini, menurut Eriyatno, dimulai dengan pendewasaan Kelompok Tani atau Gabungan Poktan unggulan pada komoditas tertentu untuk memudahkan konsolidasi organisasi. BUMP ini dapat juga berasal dari lembaga swadaya masyarakat petani, termasuk pesantren tani dan asosiasi pedagang kecil yang merangkap petani. “Pembentukkan BUMP ini dapat meningkatkan daya tawar petani,” tutur Yunita Resmi Sari. Tanpa BUMP, kata Direktur Bank Indonesia (BI), itu, para petani menerima saja harga input yang tinggi dan harga jual produk yang rendah. “Karena petani itu secara individu. Padahal daya tawar itu sangat signifikan pengaruhnya terhadap harga,“ papar Sari, Jumat, 21 April 2017.

Selain BUMP, ada juga perusahaan penghela untuk membeli produk-produk BUMP, sesuai kualitas yang disepakati. “Kalau petani bisa memenuhi jumlah dan kualitas yang diinginkan penghela, pasti dijamin ada pembeli dengan harga yang disepakati sejak awal. Jadi, ada contract farming,” jelas Sari, yang membawahi Departemen Pengembangan UKM BI. Di samping BUMP dan perusahaan penghela, imbuh Eriyatno, dibentuk pula Lembaga Pembiayaan Petani (LP-Tani). LPTani inilah melalui mekanisme KURLinkage dapat menyalurkan KUR-Tani dari perbankan. Selain dari KUR-Linkage, sumberdana LP-Tani dapat juga dari perusahaan penghela, tabungan BUMP, dan para investor lainnya, sehingga LP-Tani menjadi relatif kuat. Tapi Eriyatno mengusulkan, selain sebagai kredit investasi seperti benih, pupuk, dan biaya pengolahan lahan, KUR-Tani juga bisa disalurkan untuk kredit konsumtif guna memenuhi kebutuhan petani sehari-hari. “LP-Tani dapat memberikan kredit konsumtif dan non-usaha bagi keluarga petani, baik untuk keperluan hari an maupun pendidikan dan kesehatan keluarga. LP-Tani harus mampu menggantikan fungsi rentenir dan pengijon agar petani sejahtera,” cetusnya.

Out of the Box

“Usulan Pak Eriyatno ini out of the box agar KUR dapat juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari keluarga petani, kayak menggantikan kredit dari tengkulak. Tapi KUR nggak boleh untuk kredit konsumtif. Terobosan ini masih perlu dibicarakan dengan regulator, pelaku usaha, perbankan, Kadin, dan sebagainya,” komentar Sari, ketika ditemui di Lantai 14 Gedung Tipikal, BI. Eriyatno melihat contoh yang dilakukan Kelola Mina Laut atau KML Group, milik Muhammad Najikh, perusahaan perikanan di Gresik, Jawa Timur. Sebagai perusahaan penghela, KML memberikan pinjaman di muka kepada nelayannelayan untuk hidup tiga bulan, pembelian solar, alat pancing dan sebagainya. “Si nelayan melaut, hasilnya digunakan membayar pinjaman tadi,” kata Sari kepada AGRINA. Jika skema KUR-Tani mau digunakan untuk pinjaman produktif-konsumtif, masih perlu dibicarakan dengan Menko Perekonomian dan pemangku kepenting an lainnya. “Karena mereka yang berwenang menetapkan skema KUR.

Apakah mungkin KUR Tani untuk skema produktif dan konsumtif. Jadi usulan ini perlu didiskusikan lagi,” tambah Sari. Pemikiran Eriyatno ini sangat baik. “Kalau kita hanya ngasih kredit untuk investasi, nanti untuk keperluan sehari-hari, petani lari lagi ke tengkulak. Akhir nya KUR-nya bisa macet karena (lebih ba nyak uangnya) buat bayar tengkulak tadi (karena biasanya bu nganya abnormal),” kata Sari. “Saya berpendapat, petani itu harus sejahtera supaya mereka tetap ingin bertani. Jangan hanya menargetkan produksi, petaninya juga harus sejahtera. Kita bisa melihat masa depan pertanian kita cerah, baik dari sisi petaninya maupun konsumennya,” tandas Eriyatno.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *