Menjaga Pasar Udang Tetap Menjulang

Menjaga Pasar Udang Tetap Menjulang

Pasar udang ibarat tidak ada matinya. Konsumsi udang dunia terus me ning kat seperti tidak mengenal krisis. Mengutip data ITC Trade Map dan UN Comtrade, Nilanto Perbowo, Dirjen Pe nguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Per ikanan (KKP) menyatakan, tren impor udang Amerika Serikat (AS) mengalami ke naikan sebesar 6,78% pada kuartal tiga periode 2012-2016. Nilai impor udang Ame rika sejak 2012 – 2016 sebesar US$3,439 miliar, US$3,726 miliar, US$5,044 miliar, US$4,129 miliar, dan US$4,193 mi liar.

Pasokan si bongkok berasal dari India, Indonesia, Thailand, Vietnam, Ekuador, Tiongkok, dan Meksiko. Indonesia dengan nilai ekspor US$0,859 miliar menempati posisi kedua ekspor udang ke negeri yang dipimpin Donald Trump itu di bawah India.

Budhi Wibowo, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) me nambahkan, ekspor India semakin jauh meninggalkan Indonesia. “Ekspor India ke AS tahun 2015 sekitar 135 ribu ton. Tahun 2016 ekspor India diperkirakan naik menjadi 150 ribu ton. Ekspor Indonesia tahun 2015 sekitar 114 ribu ton, tahun 2016 di perkirakan naik sedikit menjadi 117 ribu ton,” ulasnya kepada AGRINA.

Kondisi agak berbeda ditunjukkan pasar Jepang. Pada kuartal tiga periode 20122016 tren impor udang di Negeri Matahari Terbit itu menurun sekitar 5,72%. Nilai impor udang Jepang 2012 – 2016 masingmasing sebesar US$2,085 miliar, US$2,035 miliar, US$1,897 miliar, US$1,595 miliar, dan US$1,630 miliar.

Pasar Si Bongkok

Menurut Nilanto, ekspor udang Indone sia ke Amerika, Uni Eropa, dan Rusia pada Januari-November 2016 mengalami pe- ningkatan sekitar 5,86% dibandingkan periode yang sama 2015. Volume ekspor Indonesia ke Amerika, Uni Eropa, dan Ru sia pada Januari-November 2016 berturut-turut sebanyak 164,86 ribu ton, 74,46 ri bu ton, 2.210 ton dengan nilai US$1,46 miliar, US$370,21 juta, dan US$12,5 juta.

Sepanjang Januari-Agustus 2016, ucapnya, ekspor udang Indonesia secara kese luruhan mencapai 136.322 ton dengan nilai US$1,139 miliar. Sementara di perio de yang sama 2012, ekspor komoditas unggulan perikanan ini sebesar 127.590 ton dengan nilai US$1,098 miliar.

Sementara, Budhi optimistis tahun ini ekspor udang nasional naik tipis di bawah 5%. Hingga kini, lanjutnya, pasar udang masih didominasi Amerika sekitar 60%, diikuti Jepang 20%, dan Eropa 10%. Ia melanjutkan, pasar udang diwarnai se makin ketatnya tuntutan pembeli terkait ke amanan pangan (food safety), ketelusuran (traceability), dan keberlanjutan (sustainability). Contohnya, pada 2018 Amerika akan memberlakukan Seafood Import Monitoring Programme (SIMP) yang mengharuskan adanya ketelusuran semua produk perikanan yang masuk ke negara adikuasa tersebut.

“Mengingat pasar Amerika sangat do mi nan bagi pasar udang Indonesia dan waktu yang sangat mendesak, saya me minta pemerintah agar segera mengambil langkah konkret berkaitan dengan akan berlakunya SIMP,” papar pria kelahir an 27 Mei 1963 itu.

Ia mengusulkan pemerintah segera me la kukan registrasi tambak secara nasional. “Sistem pengkodean yang saya usul kan menggunakan kode pos pada 5 digit pertama agar gampang dilacak dan kode tersebut sudah diakui secara internasio nal,” tegasnya. Kemudian, pemerintah ju ga terus aktif melakukan sosialiasi tentang food safety, traceability, dan sustainabilitykepada para petambak, khususnya petambak kecil atau petambak baru yang belum paham aturan itu. Sedangkan pa sar Jepang dan Eropa sejauh ini tidak ada hambatan berarti.

Budhi pun mengkritisi kinerja ekspor produk perikanan Indonesia yang hanya berkisar US$4 miliar. Atau, tertinggal jauh dari Vietnam yang nilai ekspornya mencapai US$7 miliar. Padahal dari sisi tek nologi pengolahan produk, posisi Indo nesia dan Vietnam itu sejajar. Ia berharap pe merintah membangun sektor per ikanan budidaya, khususnya udang de ngan cara mengembangkan Infrastruk tur, seperti jalan, jembatan, saluran irigasi dan listrik di sentrasentra budidaya udang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *