MODERNISASI PETERNAKAN PENGHASIL SUSU

Modernisasi Peternakan Penghasil Susu

Untuk memenuhi kebutuhan susu nasional, Indonesia masih mengandalkan impor sampai 70% lebih. Produksi domestik tidak mampu mengejar kebutuhan. Karena itu peternakan sapi perah di dalam negeri memerlukan sentuhan teknologi untuk menaikkan produktivitas sekaligus kualitas susu yang dihasilkannya. Melihat kondisi tersebut, PT Lunar Chemplast, perusahaan pemasok alatalat industri sapi perah, menggelar semi nar sehari “Pengembangan Peternakan Sapi Perah Modern di Indonesia” pada arena Indo Livestock 2016 Expo & Forum di Jakarta (28/7). Lunar menghadirkan pembicara dari perusahaan prin sipalnya, antara lain Five-G Consultant, Boumatic/Daviesway, Artex, dan Jaylor. Dihadiri sekitar 40 orang peternak, akademisi, dan praktisi, acara tersebut membuka wawasan dan meningkatkan pengetahuan para peserta seminar.

Pentingnya Desain Tempat Pemerahan

Pembicara pertama, Ted. A. Gribble, PE dari Five-G, konsultan dan pembangun peternakan sapi perah dari Texas, Amerika Serikat, menayangkan sejumlah desain kandang di berbagai penjuru du nia. Menurut Ted, pihaknya yang berpengalaman selama 30 tahun, sudah merancang peternakan di daerah dingin, bersalju dengan guntur, sampai daerah tropis yang panas dan lembap. “Kami ahli dalam menangani panas seperti kondisi di Jakarta. Kami juga punya area yang sangat lembap di Texas. Suhunya sampai 40o C dan kelembapan udaranya 89%,” ungkap arsitek lulusan Texas Tech University, tersebut. Ia menekankan, “Bila akan membangun peternakan, sebaiknya Anda mencadangkan lahan untuk pengembangan di lokasi tersebut. Pasalnya, kebanyak an yang peternakan kami desain, akhir nya populasi sapinya berkembang.”

Five-G merancang peternakan dari yang berpopulasi 80 ekor hingga 8.000 ekor. Menurut Ted, pekerjaan merancang peternakan berskala 3.000 ekor dengan 300 ekor sama saja. “Yang paling penting adalah tempat pemerahan (milking parlour). Bagaimana membuat proses pemerahan sapi Anda menjadi efisien. Bila desainnya benar, maka halhal yang lain akan mudah ditangani,” tandas pria yang semua anggota keluarganya berkecimpung di bidang konstruksi dan persusuan ini.

Mengapa Perlu Mesin Perah

Nick Taylor dari Daviesway Dairy Equipment, produsen peralatan sapi perah dari Australia, mempresen tasikan pentingnya penggunaan mesin perah. “Ketika saya ke sini 11 tahun lalu, ba nyak peternak memerah dengan tangan. Peternak bilang, mengapa saya perlu pakai mesin perah? Saya toh punya tenaga kerja,” ucapnya memulai presentasi. Pemerahan dengan tangan, kata Nick, dapat menyebabkan susu terkontaminasi bak teri, bahkan bisa menimbulkan radang ambing (mastitis) pada sapi yang diperah. Ember penampung susu yang terbuka juga memungkinkan bakteri tumbuh dengan cepat. Alasan perlunya memanfaatkan mesin perah, lanjut dia, salah satunya adalah peternak bisa memerah sapi dalam jumlah banyak. “Berdasarkan pengalam an dan penelitian, kita bisa memerah 50% lebih cepat. Selain lebih cepat, susu yang dihasilkan lebih banyak,” klaim Nick. Dengan otomatisasi proses pemerahan, peternak atau pekerja peternakan dapat lebih fokus memberikan pakan, membersihkan kandang, dan memelihara sapi. “Konsistensi waktu pemerahan juga perlu diperhatikan, harus selalu sama dua sampai tiga kali setiap hari,” jelasnya. Mesin perah perlu dibersihkan dan dirawat secara intensif untuk menjaga kebersihannya.

Pengendalian Sapi

Selain tempat pemerahan, kandang juga harus dilengkapi perangkat yang memudahkan pekerja mengelola sapi dengan mudah dan efisien. Dengan demikian sapinya pun dapat berproduksi dengan baik. Sue Hagenson dari Artex Barn Solutions, penemu dan produsen kandang “free stall comfort zone” dari Kanada, menampilkan penanganan sapi menggunakan pengunci kepala (headlock). Menurut Sue, pengunci kepala yang dikembangkan pada 1970-an memungkinkan peternak mengendalikan sapi se cara serentak dalam jumlah besar. “Alat ini sangat berguna untuk memaksimalkan efisiensi tenaga kerja,” tuturnya. Keuntungan pemanfaatan pengunci kepala cukup banyak. Ketika kepalanya “dikunci”, sapi tidak bisa bergerak ke ma na-mana.

Dengan demikian, perawatan rutin seperti pemeriksaan fisik, vaksinasi, inseminasi buatan, cek kandungan, perawatan, dan saat mela hirkan anak sapi dapat dilakukan dengan mudah. Berdasarkan pengalaman Sue, “Setiap ekor sapi membutuhkan paling tidak 29 kali sentuhan (penanganan) per laktasi sehingga fasilitas yang dapat digunakan untuk pengendalian sapi dalam jumlah besar menjadi penting diaplikasikan.” Ia menghitung, bila populasi sapi 3.000 ekor dan tiap ekor butuh 29 kali sentuhan, maka perlu dilakukan 104.400 kali sentuhan. “Jika satu pengunci kepala menghemat 1 menit saja, maka penggunaan pengunci kepala hemat waktu 1.740 jam setahun atau sekitar 7 bulan. Artinya, ada penghematan biaya tenaga kerja,” jelasnya. Penghematan waktu ini bisa dialihkan untuk melakukan kegiat an lain dan juga tidak perlu adanya tenaga kerja tambahan. Padahal biaya tenaga kerja menduduki peringkat kedua di di pe ter nakan karena mencapai 30% dari biaya produksi susu. Keuntungan lain, lanjut Sue, memudah kan identifikasi sapi yang bermasalah. Peternak tidak perlu menghabiskan waktu untuk mengembalikan ke kandangnya setelah perawatan, dan meminimalkan risiko bercampurnya sapi itu dengan sapi yang sehat. Sapi juga akan berkurang traumanya sehingga mau makan dan minum dengan baik. “Bisa meminimalkan perilaku sapi yang dominan saat mereka makan di kandang,” tukasnya.

Pencampur Pakan

Marty Philippi, International Business Development Manager Jaylor menyampaikan tentang Meramu Pakan dengan Mesin Pencampur Pakan TMR (Total Mixed Ration). Pada sapi perah, efisiensi pakan didapatkan dengan optimasi pemilihan serat. “Untuk itu dibutuhkan alat yang dapat mencampur bahan pakan secara sempurna dengan tenaga dan waktu sesedikit mungkin,” terang Marty. Alat pencampur (mixer) asal Kanada ini dapat mencampur bahan pakan secara rata dengan distribusi ukuran partikel yang seragam. Kelembapan yang didapat lebih optimum sehingga kesegarannya tetap terjaga. Mesin pencampur pakan ini tersedia dalam berbagai tipe mulai dari pencampur mini, single auger, twin auger, dan twin auger HD. Dengan pola pencampuran vertikal, bahan pakan akan tercampur secara sempurna. “Prosesnya ada dua tahap. Yang pertama pemasukan hijauan ke dalam penampung kemudian dipotong-potong. Waktunya sekitar 10-15 menit kemudian berhenti dan dilanjutkan penambahan bahan lainnya dengan proses selama 5-10 menit. Semuanya akan tercampur homogen,” terang Marty. Menurut Marty, mesin pencampur pakan ini sudah tersebar di hampir 42 negara. “Data dari Argentina menyatakan alat ini memberikan performa yang sangat baik. Data didapat dari demo dan inspeksi langsung ke peternakan,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *